Berita  

Hampir 1.500 Pedagang Ambil Kunci Lapak, Relokasi Pasar Pagi Samarinda Terus Berjalan

Hampir 1.500 Pedagang Ambil Kunci Lapak, Relokasi Pasar Pagi Samarinda Terus Berjalan
banner 120x600
banner 468x60

Oborkaltim.com – Proses relokasi pedagang Pasar Pagi Samarinda menunjukkan progres positif. Hingga pertengahan Januari 2026, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda mencatat hampir 1.500 pedagang telah mengambil kunci lapak dari total 1.804 pedagang yang masuk dalam skema relokasi tahap pertama.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmi atau akrab disapa Yama, usai mengikuti rapat dengar pendapat bersama Komisi II DPRD Samarinda, Rabu (14/1/2026). Ia menilai angka tersebut menjadi indikator baik dalam upaya penataan kawasan pasar yang tengah dilakukan pemerintah kota.

banner 325x300

“Dari 1.804 pedagang tahap pertama, yang sudah mengambil kunci hampir mencapai 1.500. Ini perkembangan yang cukup signifikan,” ujar Yama.

Meski demikian, masih terdapat ratusan pedagang yang belum mengambil kunci lapak. Menurut Yama, hal ini disebabkan sejumlah faktor, salah satunya karena sebagian pedagang masih berada di luar daerah, termasuk di wilayah Sulawesi.

Pemerintah Kota Samarinda, lanjutnya, terus mendorong para pedagang tersebut agar segera menyelesaikan proses administrasi dan pengambilan kunci.

Terkait rencana relokasi tahap kedua, Yama menyebut pihaknya masih menunggu keputusan resmi dari Wali Kota Samarinda. Saat ini, Disdag memfokuskan penyelesaian tahap pertama, termasuk validasi data dan penataan lapak secara bertahap.

“Data yang masuk aplikasi memang khusus tahap pertama. Ini agar penyelesaiannya maksimal. Bukan berarti tahap kedua ditiadakan, nanti akan ada skema tersendiri,” jelasnya.

Ia juga menanggapi keluhan sejumlah pedagang yang mengaku memiliki Surat Keterangan Tempat Usaha dan Kios (SKTUK), namun belum memperoleh lapak. Menurutnya, persoalan ini berpotensi menjadi agenda utama pada relokasi tahap kedua, khususnya bagi pedagang yang selama ini lapaknya digunakan pihak lain.

“Prioritas tahap pertama adalah pedagang yang benar-benar aktif berjualan. Untuk tahap kedua nanti, persoalan kepemilikan SKTUK dan pihak yang menempati lapak akan kita bahas untuk dicari solusi bersama,” katanya.

Sebagai antisipasi, Disdag Samarinda telah menyiapkan beberapa opsi kebijakan, mulai dari skema A, B, hingga C. Seluruh konsep tersebut akan dipresentasikan kepada Wali Kota sebagai bahan pertimbangan.

“Tugas kami menyiapkan opsi terbaik. Keputusan akhir tetap berada di tangan Wali Kota,” tegas Yama.

Ia berharap relokasi tahap pertama dapat dirampungkan pada Januari 2026. Meski belum ada target resmi, Disdag terus mendorong agar pedagang yang sudah menerima kunci segera memulai aktivitas jual beli.

“Kami sudah mengondisikan agar yang sudah pegang kunci bisa mulai berjualan. Tapi memang belum semuanya langsung aktif karena masih persiapan,” ujarnya.

Di sisi lain, Yama memastikan harga kebutuhan pokok di Samarinda masih relatif stabil. Meski sempat terjadi kenaikan pada beberapa komoditas seperti cabai dan bawang, ia menilai pasokan masih aman.

“Selama stok tersedia, tidak akan jadi masalah besar. Secara umum, kondisi harga masih terkendali,” pungkasnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *