Berita  

AS-China Bahas Ketegangan Timur Tengah, Trump dan Xi Dorong Stabilitas Selat Hormuz

AS-China Bahas Ketegangan Timur Tengah, Trump dan Xi Dorong Stabilitas Selat Hormuz
banner 120x600
banner 468x60

Oborkaltim.com – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing menghasilkan sejumlah pembahasan penting, mulai dari stabilitas kawasan Timur Tengah hingga isu sensitif Taiwan. Gedung Putih menyebut kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran distribusi energi global.

Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih mengatakan bahwa Trump dan Xi menilai jalur pelayaran strategis tersebut memiliki peran vital terhadap arus perdagangan minyak dan gas dunia.

banner 325x300

“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas,” demikian pernyataan Gedung Putih, Kamis (14/5/2026).

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz meningkat sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu. Situasi perang menyebabkan Teheran sempat menghentikan aktivitas pelayaran di jalur tersebut, yang selama ini dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global.

Sebagai respons, Washington memberlakukan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak 8 April, kondisi kawasan disebut masih rentan.

China menjadi salah satu negara yang terdampak akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah. Berdasarkan data perusahaan analis maritim Kpler, lebih dari separuh impor minyak mentah China yang dikirim melalui jalur laut berasal dari kawasan Timur Tengah dan sebagian besar melewati Selat Hormuz.

Gedung Putih juga mengklaim bahwa Xi menyampaikan ketertarikan China untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi di Selat Hormuz. Namun, pernyataan resmi pemerintah China tidak menyinggung rencana tersebut.

Kementerian Luar Negeri China hanya menyampaikan bahwa pertemuan kedua pemimpin membahas sejumlah isu internasional dan regional, termasuk konflik di Timur Tengah, perang Ukraina, serta situasi di Semenanjung Korea.

“Kedua kepala negara saling bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional utama, termasuk situasi di Timur Tengah, krisis Ukraina, dan Semenanjung Korea,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China.

Pertemuan berlangsung di Aula Besar Rakyat, Beijing, dalam rangka kunjungan kenegaraan Trump ke China yang sebelumnya sempat tertunda. Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Presiden Amerika Serikat ke China dalam kurun satu dekade terakhir.

Xi menyambut Trump dengan upacara kenegaraan lengkap dan karpet merah sebelum keduanya menggelar pembicaraan bilateral. Gedung Putih menilai pertemuan itu berlangsung positif dan menghasilkan diskusi mengenai peluang peningkatan kerja sama ekonomi antara kedua negara.

“Presiden Trump mengadakan pertemuan yang baik dengan Presiden Xi dari China. Kedua pihak membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi,” tulis Gedung Putih.

Meski demikian, pernyataan resmi Washington tidak menyinggung secara rinci pembahasan mengenai Taiwan, yang selama ini menjadi isu paling sensitif dalam hubungan AS dan China.

Media pemerintah China sebelumnya melaporkan bahwa Xi memberikan peringatan langsung kepada Trump terkait potensi konflik apabila persoalan Taiwan tidak ditangani secara hati-hati.

“Masalah Taiwan merupakan isu terpenting dalam hubungan China-AS,” ujar Xi dalam pertemuan tersebut seperti dikutip media pemerintah China.

Xi juga menegaskan bahwa kesalahan dalam menangani isu Taiwan dapat memicu benturan serius antara kedua negara.

“Jika ditangani dengan tidak tepat, kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya,” kata Xi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *